Pemanis Buatan Alternatif Gula Pasir untuk Diabetes, Apa Saja?

Pemanis Buatan Alternatif Gula Pasir untuk Diabetes, Apa Saja?

Apakah pasien diabetes harus benar-benar meninggalkan makanan manis? Pertanyaan ini mungkin sering menghantui benak kita atau kerabat yang sedang berjuang mengontrol kadar gula darah. Nah, jawabannya, mungkin dengan mencari alternatif gula untuk diabetes.

Selama ini, diabetes memang identik dengan penyakit gula. Alhasil, banyak penderita yang beralih ke pemanis buatan atau gula alternatif seperti gula aren. Namun, pertanyaannya ialah, mana alternatif gula yang aman, sehat, dan tidak memicu lonjakan gula darah?

Berapa Batas Aman Konsumsi Gula untuk Penderita Diabetes?

Apakah Ada Alternatif Gula yang Aman untuk Diabetes?

Sebenarnya, membatasi asupan gula bukan hanya kewajiban pasien diabetes saja. Kita semua, entah anak-anak maupun orang dewasa yang sehat, tetap berkewajiban untuk senantiasa mengontrol asupan manis ini.

Gula yang dimaksud di sini mencakup segala jenis karbohidrat sederhana, mulai dari sukrosa (gula pasir), fruktosa (gula buah), hingga glukosa. Dan macam gula tersebut, banyak kita dapati di makanan sehari-hari, seperti minuman kaleng, nasi putih, roti, dan lainnya.

Menurut panduan di situs Diabetes UK, batas maksimal asupan gula bagi pasien diabetes adalah kurang dari 30 gram per hari. Jika dikonversikan ke takaran rumah tangga, jumlah ini setara dengan sekitar 7 sendok teh atau 2,3 sendok makan.

Perlu kita ingat lagi, angka ini mencakup gula dari segala sumber, bukan hanya gula yang kita tambahkan ke dalam teh atau kopi. Berbagai makanan olahan sering kali memiliki gula tersembunyi yang jarang kita sadari.

Sebagai gambaran, dalam satu bungkus kecil biskuit cokelat saja, bisa mengandung setara 1 sendok teh gula atau bahkan lebih. Dari sinilah banyak orang kecolongan, karena gula tersembunyi dari makanan olahan biasanya cenderung tak semanis gula pasir.

Pemanis Buatan Alternatif Gula Pasir yang Aman untuk Diabetes

Pemanis dan Gula Buatan Alternatif

Berbeda dengan gula tebu atau aren, pemanis buatan biasanya dibuat dengan cara rekayasa kimiawi sedemikian rupa sehingga memiliki kalori yang sangat rendah, bahkan nol. Di sinilah peran pemanis buatan atau pemanis pengganti gula.

Karena rendah kalori, pemanis buatan diyakini tidak memicu lonjakan gula darah drastis seperti gula pasir. Inilah alasan mengapa dokter dan ahli gizi sering menyarankannya sebagai alternatif bagi diabetesi.

Namun, kita perlu jeli. Setiap jenis pemanis buatan memiliki karakteristik berbeda. Ada lima jenis pemanis buatan yang umum di pasaran, serta dicap aman oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), apa saja?

1. Stevia

Jika mencari opsi alternatif gula yang masih natural, stevia adalah jawabannya. Berbeda dengan pemanis yang lain, pemanis ini diekstrak dari daun tanaman Stevia rebaudiana yang banyak tumbuh di iklim tropis.

Saat ini, stevia cukup populer. Selain bebas kalori, banyak yang percaya bahwa stevia dapat membantu mencegah penambahan berat badan karena berasal dari bahan alami. Rasanya pun cukup menyegarkan meski punya sedikit aftertaste khas yang berbeda dari gula tebu.

2. Sukralosa

Pemanis buatan ini memiliki tingkat kemanisan hingga 600 kali lipat dari gula biasa. Karena sangat manis, penggunaannya pun hanya butuh sedikit sekali, sehingga kalorinya nyaris tidak ada.

Kelebihan sukralosa tahan adalah panas. Jadi, jika Anda hobi membuat kue atau memasak makanan yang dipanaskan, sukralosa adalah pilihan yang cocok karena rasa manisnya tidak akan rusak.

3. Sakarin

Sakarin adalah satu pemanis buatan yang sudah ada sejak satu abad yang lalu dan memiliki rasa 300-500 kali lebih manis dari gula alami. Pemanis buatan ini jadi salah satu yang paling banyak dipakai saat ini.

Meskipun sempat ada kontroversi penelitian yang mengaitkan sakarin dengan kenaikan berat badan, mengutip dari laman Hello Sehat, BPOM sudah memastikan bahwa penggunaan sakarin dalam batas wajar masih aman dikonsumsi.

4. Asesulfam Kalium

Pemanis satu ini mungkin terdengar agak asing, tapi sebetulnya sudah banyak digunakan dalam makanan atau minuman ringan. Asesulfam-K sering dikombinasikan dengan pemanis lain untuk menyeimbangkan rasa.

Sesuai anjuran BPOM, batas konsumsinya adalah 15 mg per kilogram berat badan. Jadi, bagi Anda yang berbobot 50 kg, hindari mengonsumsi lebih dari 750 mg per hari demi keamanan jangka panjang.

5. Aspartam

Aspartam juga tidak kalah populernya, terutama di minuman ringan diet. Tingkat kemanisannya sekitar 200 kali gula biasa dengan kalori yang sangat rendah. Biasanya, aspartam digunakan pada minuman-minuman dingin, karena ia tidak tahan panas.

BPOM juga mengingatkan agar konsumsinya dibatasi. Batas aman (ADI) adalah 50 mg per kilogram berat badan. Misalnya, jika berat badan Anda 50 kg, batas maksimalnya adalah 2.500 mg per hari. Meski terdengar banyak, bijaknya tetaplah konsumsi seperlunya saja.

Penutup

Meski pemanis buatan ini aman sebagai alternatif guna untuk diabetes, bukan berarti Anda bebas mengonsumsinya secara berlebihan. Pola makan gizi seimbang tetap menjadi fondasi utama dalam mengelola diabetes dan menjaga gula darah.

Nah, selain itu, penderita diabetes juga dapat berikhtiar untuk menjaga kadar gula darah dengan produk herbal Habbatus Sauda 4 in 1. Terbuat dari formula Nigella sativa, Oleum europaea, VCO, dan propolis, dengan khasiat menurunkan gula darah yang telah terbukti secara empiris.

Habbatus Sauda 4 in 1 200 Kapsul

BELI SEKARANG