Produksi ASI yang lancar adalah dambaan bagi setiap ibu menyusui. Untuk melancarkan ASI, ibu menyusui mungkin rela melakukan apa saja, seperti menjaga gizi tetap seimbang, mencukupi asupan cairan, hingga memanfaatkan ASI booster berbahan alami seperti habbatus sauda.
Memang, di antara ragam pilihan herbal yang populer, habbatus sauda menonjol sebagai salah satu suplemen herbal untuk pelancar ASI, khususnya di Indonesia, bersanding dengan herbal lain seperti daun katuk dan daun pepaya.
Manfaat habbatus sauda sebagai pelancar ASI telah teruji secara empiris, terutama di negara-negara Timur Tengah dan Mediterania sana. Kandungan bioaktif di dalamnya berperan penting dalam mendukung produksi ASI.
Dosis Habbatus Sauda yang Tepat untuk Melancarkan ASI

dr. Wiyarni Pambudi, Sp.A, seorang Dokter Spesialis Anak sekaligus Konsultan Menyusui, mengakui potensi ragam jenis herbal dalam meningkatkan produksi ASI. Beliau secara spesifik menyebut daun katuk dan habbatus sauda sebagai contohnya.
Herbal-herbal ini memiliki efek galaktogog (galactagogue). Galaktogog adalah substansi yang bisa merangsang atau meningkatkan produksi ASI pada ibu menyusui. Namun, yang sering terlupa adalah, khasiat ini bisa muncul jika dosis tertentu telah tercapai.
Menurut dr. Wiyarni, berbagai tumbuhan yang populer sebagai galaktogog ini bisa memberikan manfaat yang optimal jika konsumsinya sesuai dengan takaran atau dosis yang tepat.
Dengan kata lain, jika seorang ibu menyusui mengonsumsi habbatus sauda dengan takaran yang benar, kemungkinan besar hal ini dapat membantu meningkatkan volume ASI secara bertahap.
“Hanya dosisnya itu tertentu dia, dia akan bekerja kalau dosisnya sekian (tercapai). Yang biasa dikonsumsi ibu-ibu terkadang kan tidak sebanyak itu. Tidak sampai ke dosis galaktogog,” ujar dr. Wiryani, melansir dari laman kumparanMOM.
Pernyataan ini menyoroti pentingnya dosis yang memadai agar efek galaktogog bisa tercapai. Sering kali, konsumsi herbal yang tidak mencapai dosis terapeutik dapat membuat manfaatnya kurang terasa.
Takaran Dosis yang Optimal
Saat ini, penelitian mengenai standarisasi dosis habbatus sauda yang tepat untuk hal melancarkan ASI memang masih terus berkembang dan belum sepenuhnya terstandarisasi secara global.
Namun, berdasarkan data empiris dan rekomendasi dari berbagai sumber, banyak ahli menyarankan dosis 1-2 gram habbatus sauda dalam frekuensi harian untuk mendapatkan manfaat galaktogognya.
Sebagai ilustrasi praktis, jika Anda mengonsumsi produk Habbatus Sauda Habasyi HIU dalam bentuk kapsul, dosis tersebut setara dengan meminum 2 kapsul, 3 kali dalam sehari. Takaran ini umumnya aman dan tidak menimbulkan efek samping.

Bagaimana Jika Dosis Habbatus Sauda yang Diminum Kurang?
Lebih lanjut lagi, dr. Wiryani mengatakan, “Jika ibu konsumsi habbatus sauda tidak sesuai dosis, hal ini juga tak masalah.” Hal ini mungkin terdengar sedikit kontradiktif, namun dr. Wiryani menjelaskan bahwa efek plasebo juga memainkan peran penting.
Menurut dr. Wiyarni, bila ibu menyusui menikmati makanan atau suplemen apa pun yang ia sukai, termasuk habbatus sauda, kemungkinan besar hal ini secara tidak sadar akan terafirmasi ke diri sendiri bahwa ASI akan lancar.
“Makanya kita bilang ya, kalau konsumsinya seperti itu ya mungkin sebetulnya bukan efek galaktogognya, tapi efek plasebonya karena ibunya senang sudah dapat, usaha, minum teh, kapsul misalnya. Jadi lebih tenang dan rileks,” ujarnya.
Sebaliknya, jika ibu menyusui tak suka mengonsumsi habbatus sauda, bisa jadi stres atau bahkan menurun produksi ASI-nya. Alhamdulillah, saat ini sudah banyak sediaan habbatus sauda berbentuk kapsul, sehingga ibu menyusui bisa meminumnya sesuai dosis yang benar dengan nyaman.
Tetap Rutin Menyusui Bayi agar Produksi ASI Bisa Meningkat

dr. Wiryani tetap menekankan bahwa ibu yang ingin mengonsumsi habbatus sauda harus tetap rutin memberikan ASI kepada bayinya agar produksi ASI tetap optimal. Semakin sering pengosongan payudara, sel-sel akan terangsang untuk memproduksi lebih banyak ASI.
Pengosongan payudara secara rutin, baik melalui menyusui langsung maupun memompa ASI, bisa merangsang peningkatan produksi ASI. Tubuh ibu menyusui secara biologis akan menyesuaikan banyaknya kebutuhan dari ASI yang keluar.
“Secara medis yang disarankan itu tetap mengoptimalkan pengosongan payudara dengan lebih sering menyusui, skin to skin, pijat laktasi, relaksasi, dan belajar teknik pelekatan atau menyusui dengan benar supaya tak terjadi nyeri puting,” pungkasnya.
