Sudah rutin berolahraga tapi angka berat badan tak turun juga? Nah, coba cek kembali kebiasaan Anda setelah latihan. Jangan sampai, kerja keras usaha defisit kalori gagal hanya karena segelas minuman manis.
Menurut spesialis gizi klinik, dr. Igus Ulfa Yaze, Sp.GK., salah satu tersangka utamanya adalah es kopi susu kekinian. Minum es kopi sehabis olahraga memang menyegarkan, tapi, tahukah Anda apa dampaknya bagi tubuh?
Gagal Defisit, Bahkan Malah Surplus Kalori

Menurut dr. Yaze, upaya membakar kalori saat berolahraga bisa menjadi sia-sia jika Anda langsung mengonsumsi minuman tinggi gula setelahnya. Bukannya menurunkan berat badan, hal ini justru memicu kelebihan kalori harian.
“Sayang banget olahraganya, karena misalnya pas olahraga misalnya yang paling gampang kita jalan kaki 30 menit, itu misalnya membakar 150 kkal. Tapi kopi susu kamu tadi itu misalnya 200 kkal, bukannya defisit itu namanya, malah jadi surplus” ujar dr. Yaze via TikTok detikHealth.
Berjalan kaki selama 30 menit membakar sekitar 150 kkal. Namun, segelas kopi susu manis yang diminum setelahnya bisa mengandung lebih dari 200 kkal. Bukannya menciptakan defisit kalori, Anda justru menimbun kelebihan kalori di dalam tubuh.
Cukup Kurangi Kalori dari Gula secara Bertahap

Jika Anda terbiasa mengonsumsi minuman manis setiap hari, dr. Yaze menyarankan untuk tidak menghentikannya secara mendadak. Mengurangi asupan gula secara drastis justru berisiko menimbulkan efek samping yang membuat tubuh tidak nyaman.
Selama ini, tubuh kita mungkin sudah terlalu biasa dimanjakan oleh gula setiap hari. Begitu asupan ini tiba-tiba distop, tubuh jadi kaget dan berontak. Nah, proses adaptasi mendadak inilah yang membuat Anda merasa pusing, lemas, dan bad mood.
“Mulai sekarang kalau kopi susu hampir setiap hari kamu minum, mulai pelan-pelan untuk ngurangin. Misalnya, kadar manisnya dulu dikurangin, jadi 70 persen,” kata dr Yaze. Atau, jika biasanya sehari habis dua cangkir, kurangi jadi secangkir saja.
Tubuh yang biasa minum gula tinggi akan kaget saat asupannya berhenti. Tubuh jadi craving parah, lemas, susah fokus, dan pusing. Nah, gara-gara fase ini rencana defisit kalori semakin berantakan dan gagal!
“Jadi memang tak bisa tiba-tiba langsung distop gitu aja, kita harus bertahap. Salah satunya ngurangin kadar manis, sama kayak anak kecil. Belajar jalannya ada prosesnya. Kita belajar misalnya ngurangin manis atau kita belajar defisit kalori, itu juga dikit-dikit dulu saja,” tutupnya.

