Makan ayam penyet atau pecel lele kurang lengkap rasanya tanpa kol goreng. Namun, meski gurih dan renyah, tahukah Anda bahwa proses masak kol goreng yang memakai banyak minyak ternyata kurang baik untuk kesehatan?
Kol bisa rusak dan berubah strukturnya saat kita menggorengnya. Akibatnya, sayuran ini menyerap sangat banyak lemak jenuh dan lemak trans, yang bisa membahayakan orang dengan masalah kesehatan tertentu.
Penderita Hipertensi dan Kolesterol Sebaiknya Jangan Makan Kol Goreng

Kol ialah sayuran sehat kaya nutrisi yang bahkan punya potensi mencegah kanker. Sayangnya, semua manfaat itu hilang seketika saat digoreng. dr. Igus Ulfa Yaze, Sp.GK., bahkan sangat melarang penderita penyakit kardiovaskular untuk mengonsumsi kol goreng.
Tumpukan lemak jahat dari minyak ini dapat memperburuk penyumbatan pembuluh darah (aterosklerosis). Bahayanya semakin berlipat ganda karena kol goreng kerap tersaji bebarengan dengan banyak garam atau penyedap rasa.
“Kalau misalnya udah ada kolesterolnya tinggi, terus ternyata punya hipertensi, apalagi sampai punya penyakit aterosklerosis, ya pasti nggak akan disarankan. Mau dia sekali atau dua minggu sekali,” jelas dr. Yaze.
dr. Yaze juga menambahkan, penggunaan minyak jelantah yang dipadukan dengan banyak garam dan bumbu akan membuat kadar natrium melonjak tajam, sehingga memicu kenaikan tekanan darah.
Menggoreng Kol dengan Minyak Sehat, Apakah Lebih Aman?

Dari sudut pandang gizi, memasak sendiri dengan minyak yang tak berulang kali terpakai memang jauh lebih baik. Penggunaan minyak jelantah di luaran sana terbukti memicu pembentukan lemak trans dan radikal bebas yang merusak tubuh.
“Ketimbang sama beli di luar, ya pasti jauh lebih aman ketika pakai olive oil atau masak di rumah dengan minyak baru. Udah pasti yang dibikin sendiri lebih aman,” tutur dr. Yaze. Namun, mengganti minyak saja tidak menyelesaikan masalah utamanya.
Meski kita menggunakan minyak paling mahal sekalipun, proses penggorengan dengan suhu ekstrem (di atas 150-180 derajat Celsius) tetap akan memecah sel kol dan menghancurkan nutrisi sensitif di dalamnya, seperti vitamin C, asam folat, dan antioksidan.
Selain itu, efek “spons” juga tetap terjadi. Saat air di dalam kol menguap karena panas, rongga kosongnya akan langsung terisi oleh minyak. Hasilnya, kol goreng tetap menjadi hidangan yang padat kalori dan kaya lemak.
Penutup
Bagi Anda yang benar-benar sehat dan tidak punya riwayat penyakit metabolik, dr. Yaze menyarankan makan kol goreng hanya untuk icip saja. Jika sudah menyantapnya, berikan jeda setidaknya satu hingga dua minggu sebelum mengonsumsinya lagi.
Demi kesehatan jangka panjang, mari kurangi konsumsi makanan yang digoreng. Jauh lebih aman menikmati kol segar sebagai lalapan, dikukus, atau direbus agar nutrisinya tetap utuh. Jangan lupa juga jaga gaya hidup sehat dan semua yang memicu penyakit kardiovaskular lainnya.
Nah, jika Anda punya masalah dengan kolesterol dan hipertensi, Habbatus Sauda 4 in 1 bisa jadi solusinya. Terbuat dari formula alami Nigella sativa, Oleum europaea, VCO, dan propolis, ia terbukti empiris berkhasiat dalam menjaga kesehatan pembuluh darah.


