Arti dari Angka-Angka Hasil Pengukuran Tekanan Darah

Arti dari Angka-Angka Hasil Pengukuran Tekanan Darah

Tekanan darah adalah salah satu indikator yang mencerminkan kesehatan jantung. Nah, pemeriksaan tensi, sebaiknya tidak hanya kita lakukan ketika merasa sakit saja. Faktanya, potensi penyakit bisa dicegah dengan angka-angka hasil pengukuran tekanan darah tersebut.

Saat ini, alat pengukur tekanan darah (tensimeter) semakin mudah ditemukan, bahkan tersedia versi digital yang bisa digunakan di rumah. Sayangnya masih banyak yang bingung bagaimana cara membaca hasilnya. Nah, apa arti dari angka-angka yang muncul di tensimeter, ya?

Cara Membaca Hasil Pengukuran Tekanan Darah

Hasil Pengukuran Tekanan Darah

Ketika Anda mengukur tekanan darah menggunakan tensimeter digital, biasanya akan muncul dua angka besar dengan satuan mmHg (milimeter air raksa atau merkuri). Misalnya saja, hasilnya menunjukkan angka 120/80 mmHg.

Nah, angka atas (sistolik) menunjukkan tekanan darah saat jantung berkontraksi dan memompa darah ke seluruh tubuh. Sementara itu, angka bawah (diastolik) menunjukkan tekanan darah ketika jantung beristirahat di antara detak dan kembali terisi darah.

Kedua angka ini sama-sama penting. Bayangkan sistem peredaran darah ini seperti selang air. Saat tekanan terlalu tinggi, dinding selang (pembuluh darah) bisa rusak. Saat tekanan terlalu rendah, air (darah) tidak bisa mengalir dengan kuat untuk memberi pasokan ke organ lain.

Nah, Anda baru bisa dinyatakan tidak sehat ketika hasil pengukuran tekanan darah tidak normal. Menurut laman Harvard Health Publishing, tekanan sistolik yang tinggi bisa menandakan adanya pengerasan pembuluh darah (aterosklerosis) atau gangguan pada katup jantung.

Sementara tekanan diastolik yang tidak normal, terlebih jika terlalu tinggi, sering dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular, seperti serangan jantung atau stroke. Namun, selalu periksakan ke dokter untuk mengetahui sebab pastinya.

Kategori dan Arti Hasil Pengukuran Tensi Darah

Ilustrasi Cek Tekanan Darah Secara Rutin

Nah, setelah mampu membedakan antara sistolik dan diastolik, kita juga perlu mengetahui dalam kategori apa hasil pengukuran tersebut. Nah, berikut klasifikasi yang disusun berdasarkan panduan dari American Heart Association (AHA) dan beberapa lembaga kesehatan global.

1. Normal

  • Sistolik rentang 90-119 mmHg.
  • Diastolik rentang 60-79 mmHg.

AHA menyebutkan bahwa tekanan darah kurang dari 120/80 mmHg dianggap sudah ideal. Namun, meski tekanan darah normal, kita tetap perlu jaga kesehatan dengan rutin olahraga, membatasi garam dan lemak, serta tidur yang cukup.

2. Prehipertensi

  • Sistolik rentang 120-129 mmHg.
  • Diastolik kurang dari 80 mmHg.

Kondisi ini disebut prehipertensi karena belum termasuk hipertensi, tetapi sudah bisa menjadi peringatan dini. Jika dibiarkan, tekanan darah bisa terus meningkat dan berujung pada hipertensi. Jika demikian, coba refleksi kembali gaya hidup dan pola makan yang dijalani.

3. Hipertensi Tingkat 1

  • Sistolik rentang 130-139 mmHg.
  • Diastolik rentang 80-89 mmHg.

Jika hasil pemeriksaan menunjukkan lebih dari 130/80 mmHg, kita sudah termasuk memiliki tekanan darah tinggi. Namun, angka ini biasanya belum menimbulkan gejala, tetapi mulai memberi tekanan pada jantung dan pembuluh darah.

4. Hipertensi Tingkat 2

  • Sistolik lebih dari 140 mmHg.
  • Diastolik lebih dari 90 mmHg.

Pada tahap ini, dokter biasanya sudah akan menyarankan kombinasi antara perubahan gaya hidup dan terapi pengobatan. Hipertensi pada tingkat 2 ini, bisa saja memicu gejala dan lebih berisiko pada komplikasi seperti penyakit jantung, stroke, gagal ginjal, hingga aneurisma.

5. Krisis Hipertensi

  • Sistolik lebih dari 180 mmHg.
  • Diastolik lebih dari 120 mmHg.

Hasil pengukuran tekanan darah yang masuk kategori krisis hipertensi, termasuk kondisi darurat medis. Biasanya, gejala yang muncul seperti sesak napas atau nyeri dada, sakit kepala hebat, hingga pandangan kabur. Segera ke IGD jika tekanan darah mencapai angka tersebut.

6. Hipotensi

  • Sistolik di bawah 90 mmHg.
  • Diastolik di bawah 60 mmHg.

Kebalikan dari hipertensi, tekanan darah kurang dari 90/60 mmHg disebut hipotensi. Tekanan darah yang terlalu rendah juga berbahaya karena dapat mengurangi suplai oksigen ke organ vital. Segera periksakan ke dokter untuk mencari penyebab dan solusinya.

Seberapa Sering Tekanan Darah Harus Diperiksa?

Jika Anda memiliki faktor risiko, seperti obesitas, stres tinggi, konsumsi garam berlebih, atau riwayat keluarga hipertensi, lakukan cek tekanan darah secara lebih rutin. Namun, umumnya frekuensi pemeriksaan bergantung pada kondisi masing-masing orang.

  • Tekanan darah normal setiap 1-2 tahun.
  • Prehipertensi setahun sekali.
  • Penderita hipertensi dua kali sehari.
  • Usia 40 ke atas, minimal setahun sekali.

Pemeriksaan tekanan darah memang simpel, murah, bahkan bisa kita lakukan di rumah. Namun manfaatnya sangat besar untuk menjaga kesehatan jantung, ginjal, otak, dan organ vital lainnya. Ingat, hipertensi bisa datang tiba-tiba tanpa gejala.

Selain itu, untuk mencegah maupun mengobati hipertensi, Anda bisa rutin mengonsumsi Habbatus Sauda 4 in 1. Obat herbal yang terbuat dari bahan Nigella sativa, Oleum europaea, VCO, dan propolis, yang terbukti empiris mampu menjaga tekanan darah.

Habbatus Sauda 4 in 1 200 Kapsul

BELI SEKARANG