Tempe, tahu, bakwan, hingga pisang goreng adalah camilan favorit saat bersantai, menonton, maupun mengerjakan tugas. Karena bahannya mudah didapat, sebagian orang lebih suka membuat gorengan sendiri di rumah dengan harapan hasilnya lebih sehat.
Lalu, apa iya gorengan rumahan otomatis jadi lebih sehat? Dengan minyak baru, bahan yang bersih, dan pastinya minyak tidak dipakai sampai hitam, semuanya memang tampak baik. Namun, Dokter Spesialis Gizi Klinik, dr. Igus Ulfa Yaze, Sp.GK., punya jawaban yang berbeda.
Menurut dr. Yaze, gorengan rumahan memang menang telak dari segi kebersihan. “Kalau secara higienitas, jelas lebih bersih. Saat di rumah, kita tahu persis kapan minyak harus diganti,” jelas dr. Yaze. Sayangnya, bersih tidaklah sama dengan sehat. Berikut penjelasannya!
Gorengan Tetap Tinggi Tepung dan Minyak

Sayangnya, “lebih bersih” tidak selalu berarti “lebih sehat”. Walaupun minyak yang Anda gunakan masih baru dan bermerek mahal, pada dasarnya gorengan tetaplah sama; makanan berbalut tepung yang dimasak dalam rendaman minyak panas.
Saat digoreng, tepung pada makanan akan menyerap minyak dalam jumlah besar. Akibatnya, karbohidrat dan lemak trans di dalamnya akan melonjak tajam. Jika dikonsumsi terus-menerus, asupan kalori harian bisa membengkak, sebersih apa pun dapur tempat kita memasaknya.
“Jadi, bukan berarti karena digoreng di rumah lalu bebas dimakan tanpa batas. Tetap saja (gorengan) bukan makanan yang 100% sehat,” tegas dr. Yaze. Sebagai alternatif, Anda bisa menggunakan minyak zaitun yang relatif rendah lemak trans.

Kembali ke Porsi dan Frekuensi Makan
Kabar baiknya, Anda tidak harus total menjauhi gorengan. Membuangnya dari menu secara drastis justru bisa memicu rasa “balas dendam” dan membuat kita memakannya lebih banyak di kemudian hari. Kuncinya ialah membatasi porsi dan frekuensi.
dr. Yaze menyarankan untuk mulai menguranginya secara bertahap agar tubuh dan lidah punya waktu beradaptasi. Misalnya, jika biasanya di sekali makan kita bisa menghabiskan lima buah bakwan, cobalah kurangi menjadi dua atau tiga buah saja.
Begitu juga frekuensinya, jika tadinya terbiasa makan gorengan setiap hari, mulailah membatasinya menjadi maksimal tiga kali seminggu. Batasi jumlahnya sehingga tidak membebankan kelebihan kalori ke dalam tubuh.
Alternatif Cara Masak Gorengan Sehat

Selain mengurangi porsi, kita juga bisa menyiasati cara pengolahannya saat hasrat ngemil gorengan datang. Sensasi renyah (crunchy) yang bikin ketagihan itu, nyatanya masih bisa kita dapat tanpa harus menggunakan genangan minyak yang banyak.
“Bisa menggunakan air fryer supaya teksturnya tetap renyah tapi penggunaan minyaknya sangat minim. Atau lebih bagus lagi kalau dipanggang, dan paling ideal jika dikukus,” saran dr. Yaze. Alternatif ini lebih sehat ketimbang cara olah konvensional.
Pada dasarnya, kita sangat boleh memakan gorengan buatan sendiri, apalagi kebersihannya jelas lebih terjamin. Namun ingat, jangan jadikan label “buatan rumah” ini sebagai alasan buat ngemil gorengan secara berlebihan!
