Di balik kelezatan dan kepraktisannya, mi instan menyimpan bahaya tersembunyi. Jika dikonsumsi terlalu sering, mi instan disebut dapat memicu masalah kesehatan yang serius seperti hipertensi. Karena itu, makanan ini tak bisa kita makan dengan sembarangan.
Memang sulit rasanya menolak aroma mi instan, apalagi saat hujan atau lapar di tengah malam. Cara buatnya praktis, harganya murah, dan rasanya gurih. Wajar kalau makanan ini selalu jadi andalan. Namun, mi instan adalah salah satu makanan yang sarat akan natrium.
Natrium Mi Instan Bisa Memicu Hipertensi

Hal ini sejalan dengan penjelasan dr. Badai Bhatara Tiksnadi, M.M., Sp.JP(K). Beliau menegaskan bahwa relasi antara asupan natrium yang tinggi dengan risiko hipertensi sangatlah erat. Faktanya, kelebihan natrium ialah penyebab paling umum dari kondisi tersebut.
Sebagai gambaran, satu bungkus mi instan rata-rata mengandung sekitar 1.400 mg natrium. Padahal, batas aman konsumsi harian kita hanya 2.000 mg saja. Artinya, makan satu porsi saja sudah menghabiskan lebih dari separuh kuota natrium harian.
Jangan lupa juga, sepanjang hari kita juga masih mengonsumsi sumber natrium lain dari camilan gurih, saus, sambal, kecap, hingga makanan cepat saji. Bukan tak mungkin, dalam sehari jumlah natrium yang masuk lebih dari 2.000 mg.
Tips Konsumsi Mi Instan yang Sehat

Meski begitu, kita tidak perlu memusuhi dan berhenti makan mi instan selamanya. Agar kesehatan dan tekanan darah tetap terjaga, ada beberapa siasat yang bisa kita terapkan. Langkah yang paling utama adalah mengontrol takaran bumbunya.
“Jadi bumbu yang sebungkus kecil itu yang rasanya sangat gurih dan enak, itu mengandung natrium yang sangat tinggi. Sehingga kurangi sebanyak mungkin bumbu, kalau perlu seperempat,” kata dr. Badai.
Jika ingin lebih sehat, dr. Badai juga menyarankan untuk meracik bumbu sendiri, “Kalau bisa, masak sendiri di rumah dan ganti dengan bumbu atau rempah-rempah yang lain. Kemudian hindari makanan olahan.”
Selain mengatur takaran bumbu, cara nemasak dan menyeimbangkan gizinya juga tak kalah penting. Spesialis gizi klinis, dr. Diana Suganda, M.Kes., Sp.GK., menyarankan agar kita memperhatikan lauk pendamping serta membatasi frekuensi konsumsinya.
“Jarangin, misal sebulan sekali. Atau kita rebus, airnya dibuang, kita ganti pakai air lain. Terus kan mi instan isinya cuma karbo, tambah protein jadi ada telurnya, ada sayurnya, kita potong-potong kasih sawi, kol,” pesan dr. Diana.
Sebagai penutup, dr. Badai mengingatkan bahwa pada dasarnya mi instan tetaplah makanan olahan. Oleh karena itu, sebisa mungkin utamakan sumber karbohidrat alami yang jauh lebih sehat untuk menu harian kita, seperti nasi, kentang, atau singkong.
Penutup
Supaya tidak terjebak natrium pemicu hipertensi, mulailah biasakan membalik kemasan makanan dan minuman yang akan kita beli. Cek bagian Informasi Nilai Gizi, perhatikan angka pada komponen Natrium atau Sodium, dan hitung kadar harian yang masuk.
Kita juga dapat berikhtiar menjaga kesehatan jantung, pembuluh darah, serta tekanan darah dengan Habbatus Sauda 4 in 1. Suplemen yang terbuat dari 4 kombinasi herbal ini, juga mampu mendongkrak daya tahan tubuh dan menjaga tekanan darah.


