Lebaran identik dengan opor ayam, semur daging, rendang, hingga deretan stoples kue kering. Memang sangat menggugah selera, namun, di balik kelezatan hidangan khas Lebaran tersebut, bayang-bayang kolesterol naik kerap kali bikin kita waswas.
Sebagai penderita kolesterol tinggi, momen Lebaran seperti ini memang bikin dilema. Namun, sebelum kita buru-buru panik, ada baiknya kita pahami dulu bagaimana sebenarnya tubuh kita merespons aneka makanan berlemak khas Lebaran ini.
Trigliserida Opor Ayam Berpotensi Memicu Naiknya Kolesterol

Kebanyakan dari kita mengira, kalau makan makanan berlemak akan langsung membuat angka kolesterol di darah melonjak saat itu juga. Padahal, penjelasannya tidak sesederhana itu. Menderita kolesterol, bukan berarti tak boleh makan opor ayam.
Menurut dr. Roy Panusunan Sibarani, Sp.PD-KEMD., seorang spesialis penyakit dalam dari Mayapada Hospital, naik dan turunnya kolesterol tidaklah secara langsung dipengaruhi oleh apa yang baru saja kita makan. Bahkan, organ hati kita secara alami juga memproduksi kolesterol.
Tubuh kita sangat membutuhkan kolesterol ini, salah satunya untuk membentuk membran atau dinding sel agar bisa berfungsi normal. Lantas, apa yang terjadi saat kita makan makanan berlemak seperti opor ayam?
Lemak yang masuk dari makanan itu biasa kita kenal sebagai trigliserida. Lemak inilah yang kemudian diserap oleh tubuh, kemudian diolah oleh hati menjadi berbagai bentuk lemak lainnya, termasuk LDL (low-density lipoprotein) yang sering kita juluki sebagai kolesterol jahat.
Tips Menjaga Kadar Kolesterol Agar Tetap Stabil saat Lebaran
Nah, masalah utamanya ialah pada kebiasaan kita mengonsumsi lemak jenuh dan lemak trans (trans fat) secara berlebihan. Selain itu, menurut dr. Roy, opor ayam atau hidangan bersantan lainnya (terutama yang dipanaskan berulang kali) sangat sarat akan lemak trans.
Lemak jenis inilah yang bisa menjadi cikal bakal terbentuknya plak atau kerak di dalam pembuluh darah kita. Jika kita biarkan menumpuk, plak ini bisa memicu berbagai risiko kesehatan kardiovaskular. Ada tips dari dr. Roy agar kita bisa menikmati opor tanpa takut kolesterol naik!
1. Imbangi dengan Serat

Kunci pertama adalah menyeimbangkan nutrisi dalam piring makan. Kalau Anda hanya mengambil nasi, potongan rendang, dan disiram kuah gulai ayam, maka lemaknya akan langsung terserap dan menumpuk di tubuh.
Solusinya sebetulnya mudah; cukup imbangi dengan asupan serat. Serat dari sayur-sayuran atau buah segar (seperti nanas) punya fungsi luar biasa untuk membantu tubuh mengurangi penyerapan lemak di dalam usus.
“Kalau cuma makan nasi, rendang, sama gulai ayam, ya langsung jadi lemak di tubuh. Tapi kalau ditambah serat seperti sayur atau nanas, itu bisa membantu mengurangi absorpsi lemak di usus,” jelas dr. Roy.
2. Perbanyak Gerak

Ini dia kebiasaan yang paling sering kita lakukan sehabis makan berat, yakni langsung rebahan. Padahal, dr. Roy sendiri mengingatkan bahwa kita punya jeda waktu sekitar 3 jam setelah karbohidrat dan lemak itu masuk sebelum tubuh mulai memproses energi tersebut.
Manfaatkan waktu 3 jam itu untuk melakukan aktivitas fisik ringan. Tak perlu olahraga berat yang menyiksa. Anda dapat berjalan kaki sehabis pulang dari masjid, bersepeda, atau sekadar berjalan memutari halaman rumah setelah makan besar di rumah kerabat.
“Kita punya waktu 3 jam sebelum sel itu memberangkatkan energi kita. Energi yang masuk, karbohidrat dan lemak itu kan masuk. Nah, kita punya waktu 3 jam. Untuk apa? Ya lakukanlah satu exercise,” tuturnya.
Penutup
Lebaran memang menjadi momen makan-makan, perayaan yang sangat dinantikan setelah sebulan penuh berpuasa. Tak ada larangan menikmati opor, asalkan tetap membatasi porsinya, mengimbangi dengan serat, dan tak lupa bergerak setelah makan.
Sebagai ikhtiar, Habbatus Sauda 4 in 1 juga dapat menjadi pilihan untuk menjaga kadar kolesterol tetap normal saat Lebaran. Formula Nigella sativa, Oleum europaea, VCO, dan propolis propolis di dalamnya, terbukti secara empiris berkhasiat untuk pembuluh darah dan metabolisme lemak.

