Di dunia medis dan gizi, keinginan mendadak untuk makan yang manis-manis padahal tubuh tidak butuh energi tambahan, populer dengan sebutan sugar craving. Menahan godaan ini tentu cukup sulit, apalagi di tengah maraknya tren jajanan kekinian yang serba gula.
Namun, kebiasaan menuruti sugar craving tanpa kontrol tak boleh kita anggap sepele. Konsumsi manis berlebihan memicu lonjakan gula darah yang berbuntut pada penurunan energi secara drastis, sehingga tubuh cepat lapar dan terus-menerus menginginkan gula.
Penyebab Keinginan Mendadak untuk Makan Manis
Dalam jangka panjang, siklus ini berisiko meningkatkan berat badan, mengganggu metabolisme, hingga memicu diabetes tipe 2. Untuk itu, penting bagi kita untuk memahami apa saja penyebab munculnya keinginan mendadak untuk makan yang manis-manis ini.
1. Sumber Kenyamanan Instan

Health Communicator dari Kalbe Nutritionals, dr. Laurencia Ardi, M.Gizi, AIFO-K, menjelaskan bahwa rasa manis memang punya efek psikologis yang kuat. Gula mampu memberikan efek tenang sekaligus membuat seseorang lebih menikmati apa yang ia konsumsi.
“Karena memang rasa manis itu memberikan rasa nyaman kemudian enjoy, jadi itu yang sering kali dicari oleh konsumen bahwa rasa manis itu enak,” ungkap dr. Laurencia, melansir dari laman detikHealth (5/6/2026).
2. Meningkatkan Dopamin Otak

Nah, penjelasan dr. Laurencia tersebut nampaknya sejalan dengan mekanisme kerja otak. Rasa manis punya keterkaitan yang kuat dengan reward system atau sistem penghargaan yang ada di dalam otak kita.
Ketika mengecap rasa manis, reseptor lidah langsung mengirim sinyal ke otak untuk mengaktifkan pusat kesenangan dan motivasi. Sebagai respons, otak akan melepaskan dopamin, yakni zat kimia yang memberikan rasa puas, bahagia, dan nyaman.
Otak sangat menyukai sensasi tersebut, sehingga ia merekam aktivitas mengonsumsi yang manis-manis sebagai pengalaman menyenangkan dan terus mendorong kita untuk mengulanginya. Fakta ini turut diperkuat studi Journal of Psychopharmacology pada tahun 2025.
Tak hanya lidah saja yang menyukai rasa manis. Penelitian di dalam jurnal Cell Metabolism di tahun 2024, juga menemukan adanya jalur komunikasi langsung antara usus dan otak. Saat mendeteksi asupan gula, usus turut mengirim sinyal ke otak untuk kembali melepas dopamin.
Inilah alasan kenapa makanan manis biasanya terasa lebih memuaskan ketimbang camilan gurih. Oleh karena itu, wajar jika sugar craving muncul setelah Anda melewati hari yang melelahkan, karena tubuh sedang mencari sensasi nyaman dari pelepasan dopamin.
Boleh Makan Manis-Manis, Asal dalam Batas Wajar

Agar tak terjebak dan kalap, dr. Laurencia menyarankan satu cara efektif, yakni menerapkan mindful eating. “Yang pertama, mindful eating itu sangat penting. Jadi kita itu harus sadar penuh apa makanan yang masuk ke dalam tubuh kita,” tegasnya.
Alih-alih sekadar mengunyah, coba kenali asupan Anda, nikmati teksturnya, dan yang terpenting telitilah dalam membaca label gizi kemasan. Dengan demikian, kita tak hanya mengejar kelezatan saja, tetapi juga berusaha mengontrol jumlah gula yang masuk ke dalam tubuh.
Jadi, saat keinginan makan manis itu kembali muncul, Anda tetap boleh menikmatinya. Syaratnya, lakukan dengan penuh kesadaran, batasi porsinya, dan nikmati secara perlahan. Dengan ini, sugar craving kita terpuaskan tanpa takut kelewat batas.
Penutup
Menjaga stabilitas gula darah adalah perjalanan yang terbentuk dari kebiasaan-kebiasaan kecil. Dengan sedikit lebih kritis terhadap asupan yang kita makan setiap hari, kita sebetulnya sudah mengambil langkah yang bagus untuk kesehatan.
Selain itu, Anda juga bisa berikhtiar menjaga kadar gula darah dengan produk herbal Habbatus Sauda 4 in 1. Formula Nigella sativa, Oleum europaea, VCO, dan propolis, terbukti empiris berkhasiat untuk menjaga kadar gula dan daya tahan tubuh.


