Seiring bertambahnya usia, tubuh mengalami banyak perubahan, termasuk pada sistem metabolisme dan fungsi organ. Salah satu kondisi kesehatan yang cukup sering lansia alami adalah tanda-tanda munculnya asam urat.
Meski dapat terjadi pada siapa saja, nyeri asam urat lebih umum muncul saat usia lanjut, dan biasanya terasa lebih berat serta berulang. Masalahnya, asam urat pada lansia kerap dianggap wajar karena faktor usia, sehingga tak jarang dibiarkan begitu saja.
Padahal, jika tidak tertangani dengan tepat, asam urat bisa menyebabkan nyeri berkepanjangan dan keterbatasan gerak. Lantas, seperti apa tanda-tanda asam urat pada lansia dan apa penyebabnya? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.
Kadar Asam Urat Normal pada Lansia

Secara umum, kadar asam urat normal pada lansia tak jauh berbeda dengan orang dewasa lainnya. Pemeriksaan dilakukan melalui tes darah yang mengukur serum uric acid. Nilai rujukan normalnya adalah 4-7,0 mg/dL untuk pria, dan 2,4-6,0 mg/dL untuk wanita.
Kadar asam urat yang berada di atas rentang tersebut sudah termasuk hiperurisemia. Di dalam jangka panjang, hiperurisemia dapat menyebabkan terbentuknya kristal asam urat di persendian dan memicu penyakit nyeri asam urat atau gout.
Menurut National Kidney Foundation, pada penderita gout, atau mereka yang memiliki risiko komplikasi, kadar asam urat idealnya harus di bawah 6,0 mg/dL untuk mencegah serangan berulang dan kerusakan sendi.
Perlu Anda ingat, nilai normalnya bisa sedikit berbeda tergantung penerapan standar laboratorium tempat Anda mengecek. Selain itu, lansia dengan penyakit penyerta seperti gangguan ginjal biasanya memerlukan pemantauan kadar asam urat yang lebih rutin.
Tanda-Tanda Asam Urat pada Lansia
Gejala asam urat pada lansia bisa muncul secara tiba-tiba atau berkembang perlahan. Tingkat keparahan gejalanya pun bervariasi, mulai dari nyeri ringan hingga nyeri yang sangat mengganggu aktivitas sehari-hari.
1. Nyeri Sendi Dadakan (Gout)
Tanda-tanda paling khas dari asam urat pada lansia adalah serangan nyeri sendi yang muncul tiba-tiba, sering kali pada malam atau dini hari. Nyeri bisa terasa tajam, menusuk, dan sangat intens.
Bagian tubuh yang paling sering terkena adalah jempol kaki (podagra). Namun, pada lansia, nyeri juga kerap terjadi di area pergelangan kaki, lutut, pergelangan tangan, dan jari tangan.
Sendi yang terserang biasanya tampak bengkak, kemerahan, terasa panas, dan sangat sensitif. Bahkan sentuhan ringan, seperti gesekan selimut bisa terasa menyakitkan. Nyeri biasanya memuncak dalam 12-24 jam dan berlangsung beberapa hari hingga beberapa minggu.
2. Keterbatasan Gerak Sendi

Selain nyeri hebat, asam urat kronis pada lansia sering ditandai dengan kekakuan sendi, terutama saat bangun tidur atau setelah lama tak bergerak. Tanda-tanda kekakuan ini terjadi akibat penumpukan kristal asam urat yang menimbulkan peradangan berulang pada sendi lansia.
Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat merusak struktur sendi dan menyebabkan gerakan terasa terbatas, sulit berjalan atau menggenggam benda, hingga nyeri yang menetap meski tidak sedang kambuh.
Pada beberapa lansia, sendi bisa tampak berubah bentuk (deformitas) dan disertai pembengkakan yang menetap. Tidak jarang pula muncul keluhan tambahan seperti mudah lelah, demam ringan, atau penurunan kemampuan melakukan aktivitas harian secara mandiri.
3. Nyeri Berulang
Pada tahap awal, serangan asam urat mungkin hanya terjadi sesekali. Namun, seiring waktu (terutama jika tidak diobati) serangan bisa menjadi lebih sering, lebih lama, dan melibatkan lebih banyak sendi. Inilah yang sering terjadi pada lansia dengan asam urat yang tidak terkontrol.
Penyebab Asam Urat pada Lansia
Ada berbagai faktor yang membuat lansia lebih rentan mengalami peningkatan kadar asam urat. Faktor-faktor ini biasanya saling berkaitan satu sama lain. Nah, berikut ini adalah beberapa penyebab asam urat pada lansia.
- Seiring bertambahnya usia, kemampuan ginjal dalam menyaring dan membuang sisa metabolisme, termasuk asam urat, cenderung menurun. Akibatnya, asam urat lebih mudah menumpuk dalam darah.
- Konsumsi makanan tinggi purin seperti daging merah, jeroan, seafood tertentu, serta minuman beralkohol dapat meningkatkan produksi asam urat. Terlebih, metabolisme purin yang melambat pada lansia, bisa mempercepat penumpukannya.
- Ada beberapa obat yang sangat umum dikonsumsi lansia, seperti diuretik, aspirin dosis rendah, dan obat imunosupresan, dapat memengaruhi keseimbangan asam urat dalam tubuh.
- Kondisi seperti sindrom metabolik dan resistensi insulin dapat menghambat pembuangan asam urat oleh ginjal, sehingga kadarnya meningkat. Asam urat yang menumpuk dalam darah akhirnya mengkristal di persendian.
- Lansia dengan gangguan hipertensi, diabetes, obesitas, serta penyakit kardiovaskular dapat memperburuk fungsi ginjal dan metabolisme, yang pada akhirnya juga membuat kadar asam urat tinggi.
Pemeriksaan rutin, pengaturan pola makan, gaya hidup sehat, serta pengobatan sesuai anjuran dokter dapat membantu mengendalikan asam urat dan menjaga kualitas hidup lansia tetap optimal.
Jika anggota keluarga lansia mulai sering mengeluh nyeri sendi yang tidak biasa, jangan ragu untuk berkonsultasi ke tenaga kesehatan. Penanganan yang tepat sejak awal tentunya bisa membuat gejalanya tidak semakin parah di kemudian hari.
Keluhan nyeri sendi akibat asam urat juga bisa diobati dengan konsumsi Habbatus Sauda 4 in 1. Kapsul herbal yang memformulasikan Nigella sativa, Olea europaea, VCO, dan propolis, memiliki efek anti-inflamasi alami dan bisa membantu meredakan radang pada sendi.

